Italia Akui Pembunuhan terhadap Muammar Gaddafi adalah Kesalahan

Berita242 Dilihat

TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Luar Negeri Italia yang juga merangkap sebagai Wakil Perdana Menteri Italia Antonio Tajani menggambarkan negara-negara Barat telah membuat kesalahan karena ikut membantu menggulingkan mantan pemimpin Libya Muammar Gaddafi pada 2011 silam. Kematian Gaddafi setelah bertahun-tahun kemudian malah menimbulkan kekacauan dan konflik di Libya.  

 

Berbicara dalam sebuah acara di Tuscany pada Rabu, 16 Agustus 2023, Tajani mengatakan Libya berada dalam banyak masalah sekarang ini setelah Gaddafi digulingkan dan dibunuh. Gaddafi jelas masih lebih baik dibanding pemimpin-pemimpin Libya setelahnya.

“Ini adalah sebuah kesalahan yang serius membiarkan Gaddafi dibunuh. Dia mungkin bukan juara dalam demokrasi. Namun setelah pemerintahannya diselesaikan, masuk ketidak-stabilan politik di Libya dan Afrika,” kata Tajani.

      

Italia masih memegang kesepakatan dengan Gaddafi untuk menutup arus migrasi dan situasi ketika itu masih sangat terkendali.

Iklan

Gaddafi dibunuh secara brutal oleh kelompok pemberontak di tengah sebuah kampanye pengeboman oleh NATO dengan dalih zona larangan terbang selama perang sipil Libya pada 2011. Meskipun Washington dan sekutu-sekutunya menggambarkan misi itu sebagai sebuah misi upaya kemanusiaan demi mengakhiri Pemerintah Lybia menyerang warga sipil, sebuah langkah pembuktian oleh UK House of Commons kemudian menemukan kalau ancaman pada warga sipil itu dilebih-lebihkan. Bukan hanya itu, negara-negara Barat pun telah mengabaikan elemen garis keras yang sangat besar dikalangan militant anti-Gaddafi.     

Usai Gaddafi terguling, Libya sekarang terpecah-belah menjadi perebutan orang-orang yang ingin duduk pucuk pemerintahan. Masing-masing kelompok di Lybia mengklaim sebagai pihak yang sah untuk memimpin negara itu. Fraksi-fraksi di Libya masih cekcok bertahun-tahun setelah Gaddafi meninggal hingga akhirnya mereka berkonsolidasi di bawah dua kubu yang dipimpin oleh PBB Government of National Accord. Dua kelompok itu adalah kelompok loyalis Gaddafi dipimpin oleh Khalifa Haftar dan Libyan House of Representatives.

Baca Juga  Fatih Unru Kehilangan Ayah dan Guru, Yayu Unru Sempat Tertawa Saat Bercanda Sebelum Meninggal Dunia

Sumber: RT.com    

Pilihan Editor: Anies Baswedan: Lawan Kompetisi Pemilu adalah Teman dalam Demokrasi

Ikuti berita terkini dari Tempo.co di Google News, klik di sini.



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *