Sidang Lukas Enembe, Saksi Ungkap soal Jual Beli Rekening Kosong ke Kamboja, Dapat Upah Rp 300 Ribu

Berita216 Dilihat

TEMPO.CO, Jakarta – Sidang kasus suap dan gratifikasi Gubernur Papua nonaktif Lukas Enembe pada Rabu,16 Agustus 2023 menghadirkan 4 orang saksi. Mereka adalah Eks Kadis PUPR Papua Gerius One Yoman, pedagang sembako Maizunnandhib, bartender Rifki Agerano dan teknisi ATM Muhammad Chusnul Khuluqi.

Salah satu saksi Maizunnandhib sebagai pedagang sembako ternyata menjalankan bisnis jual beli sejumlah rekening kosong ke Kamboja. Hakim menghadirkan Maizunnandhib karena diduga beberapa rekening yang ia jual digunakan untuk menerima transferan dalam kaitan dengan Lukas Enembe. 

“Apakah saudara pernah tidak, menjual rekening?” tanya hakim.

“Iya pak,” jawab dia.

Dia mengaku menjual rekening apabila ada permintaan. Rekening itu, ia menjelasan diperoleh dari warga di sekitar tempat tinggalnya di Jepara. Warga disebut berinisiatif ingin membuat rekening dan menjual kepadanya dengan harga Rp 700 ribu.

“Orang mana yang jual rekening ini?” tanya hakim.

“Orang kampung,” jawab dia.

“Datang ke saudara?” tanya hakim.

“Iya. Jadi kesepakatan tanpa paksaan, mereka sendiri,” ucapnya.

Rekening yang dikumpulkan saksi tersebut kemudian dijual per rekeningnya seharga Rp 1 juta. Ia mengaku menjual rekening itu ke Kamboja. Saksi mendapat Rp 300 ribu per rekening.

“Wah, Kamboja. Gila, jaringan internasional nih, pasti judi, narkotika, dan lain-lain nih. Ada penjualan organ tubuh Kamboja tuh, bahaya, Saudara salah satu juga kayaknya nih. Jadi saudara setelah mendapat banyak rekening, saudara jual ya. Berapa rekening yang coba saudara jual? 500 rekening saudara. Benar 500 ya?” tanya hakim.

“Kisaran itu Pak,” jawab dia.

“Itu saudara ke Kamboja semua?” tanya hakim.

“Iya rata-rata, ke situ yang banyak memang Pak,” jawabnya.

“Jadi 500 orang itu, 500 nomor rekening itu atas nama orang Jepara semua ya?” tanya hakim.

Baca Juga  Indonesia Raih Satu Medali Emas dari ajang Beach Woodball World Cup 2023 di Malaysia

“Iya,” jawabnya.

Hakim juga mendalami apakah dua saksi lainnya yang hadir yaitu Rifki Agerano selaku bartender dan Muhammad Chusnul Khuluqi selaku teknisi ATM dijual rekeningnya kepadanya.

“500 rekening itu termasuk nama mereka (Rifki dan Chusnul) ada?” tanya hakim.

“Gimana pak?” tanya Maizunnandhib.

“500 rekening yang saudara jual itu?” tanya hakim.

Iklan

“Iya termasuk,” jawabnya.

Maizunnandhib mengaku rekening yang dijual baik kartu maupun bukunya. Namun kadang ada juga yang tidak disertai dengan buku tabungan.

“Sepengetahuan Saudara, apakah di antara rekening itu, tahu enggak Saudara salah satunya yang masuk adalah rekening Lukas Enembe?” tanya hakim.

“Tidak tahu, Pak,” jawabnya.

Kemudian hakim lainnya juga bertanya hal yang sama. Menegaskan apakah benar rekening-rekening itu dijual ke Kamboja atau tidak.

“Saudara kan dapat Rp 1 juta ya, itu dalam bentuk mata uang rupiah atau Kamboja?” tanya hakim.

“Rupiah Pak,” jawab dia.

“Bisa yakin itu orang Kamboja dari mana?” tanya hakim.

“Bukan orang Kamboja Pak. Aslinya orang Indonesia tapi kerja di sana,” jawab dia.

“Itu dia, bisa yakin dia kerja atau berada di sana dari mana?” tanya hakim.

“Bilangnya begitu,” jawab Maizunnandhib.

“Cuma dari bilangnya?” tanya hakim.

“Iya bilangnya kerja di Kamboja,” ucap Maizunnandhib.

Dia mengaku setelah menjual rekening itu, sudah tidak tahu dipergunakan untuk apa rekening tersebut. Termasuk apakah ada yang digunakan oleh Lukas Enembe atau tidak.

“Setelah kirim putus,” kata dia.

Lukas didakwa terima suap Rp 45,8 miliar

Gubernur Papua nonaktif Lukas Enembe didakwa menerima suap dengan total Rp 45,8 miliar. Suap itu diberikan oleh dua pengusaha terkait dengan proyek infrastruktur di Papua. “Hadiah tersebut diketahui atau patut diketahui diberika agar terdakwa melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kewajibannya,” kata penuntut umum KPK saat membacakan berkas surat dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin, 19 Juni 2023.

Baca Juga  Tanggapan Ganjar Pranowo Soal Peluang Mahfud MD Jadi Cawapresnya di Pemilu 2024

Jaksa menyebutkan pengusaha pertama yang memberikan suap itu adalah pemilik PT Melonesia Mulia Mulia, Piton Enumbi. Piton disebut juga memiliki perusahaan lain, yaitu PT Lingge-Lingge, PT Astrad Jaya dan PT Melonesia Cahaya Timur. Jaksa mendakwa Piton memberikan suap kepada Lukas dengan jumlah Rp 10,4 miliar. 

Selain itu, jaksa mendakwa Lukas juga menerima suap dari Direktur PT Tabi Anugerah Pharmindo, Rijatono Lakka. Selain PT Tabi, Rijatono juga merupakan pemilik PT Tabi Bangun Papua dan CV Walibhu. KPK mendakwa Lukas menerima Rp 35,4 miliar dari Rijatono. 

Pilihan Editor: Bantu Lukas Enembe Bikin Rekening, Saksi Tak Tahu Ada Transferan Rp 806 Juta



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *